From Jakarta to Shirakawa-go, jalan-jalan hemat (tapi nyaman) ke Jepang, Part 1

February 28, 2013

Hallo semua para pembaca blog, saya mencoba memberikan tulisan yang kiranya dapat menjadi tambahan informasi dan tips untuk teman-teman yang akan berpergian ke Jepang. Pengalaman kami memang tidak seberapa tentunya, semoga dapat membantu sekedarnya. Dan tentu juga terdapat beberapa hasil foto perjalanan selama kami disana selama 10 malam, 7 kota: Tokyo, Hakone, Osaka, Hiroshima, Kyoto, Takayama, Shirakawa-go.”

Just a reminder, please respect copyrights for all the photographs in this blog.

Part 1: Tokyo, Hakone, Osaka, Hiroshima, Kyoto

Pada bulan Januari 2013, saya berempat dengan kawan-kawan, berkesempatan melakukan perjalanan ke Jepang. Diawali oleh ajakan sahabat saya, yang juga penggemar fotografi, kami segera menyiapkan rencana perjalanan tersebut. Menurutnya, setelah melihat foto-foto di blog perjalanan saya ke Jepang sebelumnya http://www.didiek.com/tokyo-23-30-december-2011, menimbulkan keinginan untuk mengunjungi negara tersebut. Senangnya dapat berbagi pengalaman… :)

Beruntung kami menemukan tiket promo Garuda Indonesia PP sebesar $ 459, untuk perjalanan 10 bulan kemudian. Karena tiket promo, tanggal perjalanan tidak dapat dirubah sama sekali, jadi harus ditentukan betul waktu keberangkatannya. Adapun biaya Visa Jepang sekitar Rp. 450.000 dengan menyertakan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Kemudian kami browsing di internet untuk membuat itinerary yang terbaik dan juga menyiasati biaya agar dapat dibuat serendah mungkin. Maklum di Jepang, seperti dikatakan orang-orang, semuanya mahal… ;)

Sahabat saya menemukan tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi dan dijadikan obyek fotografi, yaitu Shirakawa-go. Tempat ini merupakan desa tradisional di area Gifu, Jepang yang dinyatakan sebagai UNESCO’s World Heritage Sites. Shirakawa merupakan daerah utama hujan salju besar di dunia, dan tempat paling bersalju di Jepang, dengan area hutan sebesar 95,7%. Karena cuaca seperti itu disana, diciptakan rumah Gassho-zukuri, yang terdaftar juga sebagai Cultural Heritage Sites. Bbrr… membayangkannya saja kami sudah kedinginan.

Saya semakin tertarik untuk pergi dengan itinerary yang telah kami buat. Di samping Shirakawa-go sebagai tujuan utama, kami juga berencana berkeliling di Tokyo, Hakone (Mt. Fuji view, Lake Ashi), Osaka, Hiroshima, Kyoto, dan Takayama. Seluruh waktu perjalanan adalah 10 malam di Jepang.

Sebagai tips, kita bisa berpergian disana dengan menggunakan Japan Rail Pass, yang harus dibeli di negara asal pengunjung. Di Jakarta dapat dibeli di Wisma KEIAI, Jalan Jendral Sudirman atau dapat dibeli secara online di http://www.jrpassworld.com/en/. Harga JR Pass adalah 28.300 Yen atau sekitar Rp. 3.300.000 untuk masa berlaku 7 hari, dan kita dapat menggunakannya di seluruh Jepang yang dioperasikan oleh Japan Rail, baik kereta, bus dan ferry. Yang paling menarik dari JR Pass adalah kita dapat naik Shinkansen, bullet train yang akan mengantar kita ke kota-kota tujuan di Jepang dengan sangat efisien. Sebagai info tambahan, setelah pembelian kita akan mendapat Exchange Order, yang nantinya ditukar dengan kartu JR Pass di JR Train Stations atau international airport di Jepang.

Untuk persiapan peralatan fotografi, saya mempertimbangkan itinerary yang padat, perjalanan dari kota ke kota dan akan banyak berjalan kaki, sehingga akhirnya saya tentukan yang paling ringkas, yaitu Olympus E-PL1 body, lensa Lumix G 14mm f/2.5, Lumix G 20mm f/1.7 dan M.Zuiko 45mm f/1.8. Saya tetap setia menggunakan E-PL1 karena bentuk fisiknya yang baik menurut pendapat saya pribadi.

Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam dari Cengkareng menuju Narita International Airport. Walaupun di tiket tertera mendarat di terminal 2 Narita, kenyataannya kami mendarat di terminal 1 Narita, begitupun nanti pada saat kami pulang kembali ke Jakarta, keberangkatan dari terminal 1. Setelah browsing di internet, ternyata mulai April 2012, Garuda Indonesia beroperasi di terminal 1 Narita. Mohon perhatian untuk selalu melihat informasi terbaru, karena akan memakan waktu untuk berpindah terminal. Di dalam kereta Narita Express yang menuju ke airport, akan selalu muncul informasi maskapai dari seluruh dunia.

Kami tiba pukul 9 pagi waktu Tokyo, suhu berkisar -2 C. Bertemu dengan kerabat dari sahabat kami yang tinggal di Jepang dan bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Senangnya mendapat tumpangan gratis dengan mobil sampai di hotel dan juga makan siang. Terima kasih banyak buat teman-teman KBRI yang mungkin membaca blog ini… :D

Untuk pemilihan hotel, kami sudah browsing berbagai macam hotel, mulai dari kamar tabung, juga hostel dengan bunk bed dan kamar mandi gabung, tapi mempertimbangkan harga yang tidak terlalu jauh berbeda, akhirnya kami pilih kamar hotel untuk 4 orang, per orang biayanya sekitar 400 ribu rupiah per malam. Untuk ukuran kamar dan juga kamar mandi memang relatif sempit, tetapi bersih. Menuju lobby hotel melalui tangga, tidak ada escalator atau lift, jadi jangan bawa koper terlalu besar dan berat.

Setelah masuk ke hotel kami Tokyo Plaza Hotel di dekat stasiun Shin-okubo, kami langsung menuju Harajuku dan Omotesando menggunakan kereta. Harga tiket kereta dalam kota berkisar antara 120-270 Yen atau sekitar 15-30 ribu rupiah. Stasiun kereta pun beberapa tidak ada escalator dan juga informasi tidak tersedia dalam huruf latin. Teringat film Lost in Translation… :)

Menggunakan transportasi taxi disana cukup mahal. Kami sudah mencobanya pada hari terakhir kami di Jepang. Dari hotel menuju stasiun Shinjuku yang berjarak sangat dekat dan hanya memakan waktu perjalanan 5 menit, biayanya 120 ribu rupiah. Mendengar pengalaman orang lain, perjalanan taxi dari airport menuju lokasi hotel di tengah kota Tokyo, menghabiskan biaya sebesar 2,7 juta rupiah, wow... ;)

Saya lanjutkan, sesampainya di Harajuku dan Omotesando, pemandangan menarik langsung kami temui di kedua tempat tersebut. Di Harajuku masih banyak barang-barang yang dijual murah, sementara di Omotesando areanya mewah dan toko-tokonya banyak dari merek-merek ternama. Silahkan berbelanja sesuai budget… :)

Salah satu teman kami menemukan boots di Takeshita Street, Harajuku untuk digunakan di daerah bersalju nanti. Di Harajuku juga terdapat Daiso, dimana semuanya berharga 105 Yen atau sekitar 12 ribuan, tokonya cukup besar dan bertingkat.

Adapun JR Pass kami belum diaktifkan, sesuai perhitungan berlaku 7 hari, akan kami aktifkan di hari ketiga pada saat kami menuju Osaka menggunakan Shinkansen bullet train, juga menuju Hiroshima, Kyoto, Takayama dan berlaku sampai kami kembali ke Tokyo.

O ya sebelum lupa, mau makanan murah, enak dan mengenyangkan? Beli Onigiri yang selalu ada di setiap 7 Eleven, Sunkus, Lawson atau toko kecil lainnya. Harganya sekitar 120 Yen atau 15 ribuan, nasi dengan nori dan di dalamnya ada beberapa pilihan tuna, chicken dan lainnya. Boleh juga bawa beberapa pop mie dari Indonesia buat sarapan pagi atau lapar waktu malam hari di hotel… :)
Untuk restoran cepat saji, McD dan Yoshinoya juga cukup murah, KFC harganya 2X dari McD.

Hari kedua kami menuju Hakone, membeli paket perjalanan Hakone Free Pass dari stasiun Shinjuku, harganya 5000 Yen, sekitar 550 ribu rupiah, berlaku untuk 2 hari. Hakone Free Pass sudah termasuk tiket kereta, cable car, ropeway (kereta gantung), boat kapal menyebrangi Lake Ashi dan bus, http://www.japan-guide.com/e/e5210.html. Selama perjalanan terdapat 3 view point untuk melihat gunung Fuji yang ternama.

Perjalanan cable car sangat menarik, berkelok-kelok dan melewati bukit-bukit pegunungan.

Kemudian pada saat menaiki ropeway atau kereta gantung kita sudah dapat melihat gunung Fuji yang mengintip indah dari balik perbukitan. Perjalanan kereta gantung juga sangat nyaman, tidak ada goncangan, sampai kami dapat berdiri sambil memotret pemandangan di luar.

 

Lake Ashi sangat indah, dan kami menaiki kapal yang cukup besar dan nyaman menuju pelabuhan di seberang danau. Udara dingin sangat terasa pada saat berada di kapal mengarungi Lake Ashi, tangan kami terasa membeku dan sulit untuk menekan rana kamera. Pemandangan sepanjang perjalanan membuat kami tertegun.

Setelah perjalanan mengelilingi Hakone, kami naik bus menuju stasiun kereta dan kembali ke Shinjuku.

Kami perhatikan di kereta banyak orang tertidur, mungkin karena lelah bekerja. Dimanapun orang selalu bergegas, waktu sangat berharga, beberapa berlarian mengejar setiap menit yang berlalu. Jadwal kereta selalu tepat waktu, tidak telat satu menit pun.

Sesampainya di Shinjuku sudah malam hari, dan kami masih terpesona dengan ritme kehidupan di Jepang, dan kita putuskan untuk meneruskan ke Shibuya, dimana malam hari masih dipenuh dengan kegiatan. Terkenal dengan kisah Hachiko, anjing yang sangat setia terhadap tuannya dan untuk menghormati kesetiaannya dibuatlah patung perunggu Hachiko di stasiun Shibuya. Di depan patung, ada juga gerbong kereta tua yang selalu dipadati orang yang bersua dan bersandar santai.

Kisah Hachiko dimulai tahun 1924, dimana Profesor Ueno dari University of Tokyo memelihara anjing Akita berwarna coklat keemasan. Di masa hidupnya, setiap sore, Hachiko selalu menyambutnya di dekat stasiun Shibuya. Rutinitas itu berlangsung sampai bulan Mei 1925, dimana sang Profesor meninggal karena sakit yang dideritanya dan tidak kembali lagi ke stasiun tempat Hachiko selalu menunggu.

Selama 9 tahun, setiap harinya Hachiko tetap datang dan menunggu sang Profesor sampai Hachiko sendiri mati ditemukan di jalanan Shibuya pada tanggal 8 Maret 1935. Cerita yang benar-benar menggugah dan membuat kami berpikir tentang kesetiaan.

Kembali ke Shibuya di masa sekarang, suasananya sangat hidup walaupun sudah larut malam, terdapat persimpangan penyeberangan yang ramai sekali. Suasana di setiap area terasa berbeda walaupun masih sama-sama di Tokyo.

Terdapat banyak jajaran toko yang menarik di Shibuya.

Setelah lelah berkeliling, akhirnya kami kembali ke hotel dan sebelumnya mampir ke Yoshinoya untuk menyantap makan malam sebelum beristirahat.

Hal yang menarik kami perhatikan dalam perjalanan pulang, walaupun dalam kereta penuh berdesakan, sedikit sekali yang berbicara, membuat suasana yang nyaman. Jepang juga terkenal sangat aman.

Keesokan harinya, hari ketiga kami pagi-pagi kembali ke Harajuku sebelum menuju kota Osaka. Ternyata pesona belanja Harajuku, membuat teman kami melamun semalam, hehe… ;)

Menuju Osaka, kami start dari stasiun Tokyo, menukar Exhange Order dengan kartu JR Pass. Karena luasnya stasiun Tokyo, saya memerlukan waktu untuk menemukan JR office tempat menukar kartu JR Pass. Siapkan semua Exchange Order beserta Passport dan ada sedikit formulir yang harus diisi. Teman-teman menunggu di suatu tempat bersama koper kami.

Sedikit cerita, dari hotel kami berjalan kaki ke stasiun Shin-okubo dan menggunakan kereta menuju stasiun Tokyo, dengan membawa koper. Di stasiun Shin-okubo hanya ada tangga biasa, jadi bersiaplah berolah raga dan hati-hati punggung anda, jangan lupa membawa counterpain dan koyo cabe… :D

Dengan menggunakan JR Pass, kita hanya perlu menunjukkan kartu kita kepada petugas dengan jalur tersendiri, tanpa perlu menggunakan tiket yang dimasukkan ke dalam mesin pada jalur biasa.

Dari stasiun Tokyo kami menaiki Shinkansen bullet train (Hikari) tujuan stasiun Shin-osaka, lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Untung sekali kami menggunakan JR Pass, karena harga tiket Shinkansen Tokyo-Osaka sekali jalan adalah 13.000 Yen atau sekitar 1,5 juta rupiah. Bayangkan kami akan menuju Osaka, Hiroshima, Kyoto, Takayama pulang pergi dan juga akan kembali ke Tokyo, semua menggunakan Shinkansen dan kereta Limited Express.

 

Saya terkagum dengan kecanggihan kereta Shinkansen, perjalanan yang mulus dengan kecepatan luar biasa. Informasi yang saya ketahui, kecepatan maksimum mencapai 300 km/jam, tidak ada polusi, dan untuk rute Tokyo-Osaka mengangkut lebih dari 150 juta orang setiap tahunnya.

Semua barang yang saya letakkan di atas meja lipat, tidak ada yang jatuh, minuman pun tidak ada yang tumpah. Di dalam kereta ini dilengkapi dengan vending machine, ternyata bukan hanya di jalan-jalan, tapi dimanapun terdapat vending machine.

Sesampainya di stasiun Shin-osaka di kota Osaka, kami menggunakan kereta subway swasta menuju stasiun Namba, menuju ke hotel kami di Osaka. Ternyata jarak dari stasiun ke lokasi hotel cukup jauh, tapi tertolong dengan adanya Namba Walk, yaitu area di bawah tanah yang bisa kita lalui menembus jalan raya di atasnya. Di Namba Walk ini dipenuhi oleh segala macam toko-toko jualan.

Hotelnya bernama Business Inn Sennichimae, pada saat check in, petugasnya memberikan informasi yang sangat lengkap, dari mulai penggunaan kunci kamar, sampai waktu tertentu untuk membersihkan kamar. Kamarnya lebih besar dari hotel di Tokyo.

Lebih sering kami kesulitan berkomunikasi di Jepang, tapi kalau berbicara perlahan, sepertinya selalu berhasil dan kami saling mengerti yang dimaksud.

Keluar dari hotel terdapat lorong-lorong gang yang luas dengan atap, suasananya menyenangkan. Banyak orang bersepeda, seperti kebanyakan tempat di Jepang.

Segera kami menuju Dotonbori, area terkenal di Osaka. Jaraknya dekat dengan hotel kami, cukup berjalan kaki. Segera kami merasakan perbedaan suasana kota Tokyo dengan Osaka. Kebetulan juga malam minggu, jadi ramai sekali suasananya.

Malam itu kami makan Takoyaki dan McD. Di dalam restoran McD, kami melihat setiap kursi diberi sekat menjadi seperti bilik-bilik tersendiri, setiap bilik ada stop kontak listrik. Ada yang tidur, belajar, bekerja dengan komputer di bilik masing-masing, dan bahkan berdandan dan blow rambut.

Tambahan info juga, saya menggunakan Samsung Galaxy Note untuk Google Maps dengan GPS selama di Jepang, sehingga kami terbantu untuk menentukan arah jalan dan tidak tersesat. Saya menggunakan paket data roaming XL yang bekerjasama dengan Softbank di Jepang. 3 hari pertama gratis dan hari berikutnya Rp. 50.050/hari. Mirip dengan paket Blackberry roaming.

Untuk membantu penggunaan transportasi di Jepang, bagi pengguna Android bisa download di Play Store, aplikasi Japan Trains. Tinggal kita ketik stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan, akan diberikan informasi harga, lama waktu perjalanan, jalur line kereta yang digunakan dan juga apabila kita harus ganti jalur ke line kereta yang lain. Juga ada pilihan search khusus untuk JR saja atau search untuk semua termasuk transportasi yang dikelola swasta. Kendalanya adalah kadang-kadang nama stasiun agak sulit dieja dalam huruf latin.

Hari keempat, pagi-pagi kami telah bersiap untuk menuju Hiroshima dan berkeliling disana seharian dan malamnya kembali ke Osaka. Start dengan berjalan kaki ke stasiun Namba, menggunakan subway ke stasiun Shin-osaka, kemudian menggunakan Shinkansen (Sakura) menuju stasiun Hiroshima, waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Shinkansen (Sakura) lebih bagus dari Shinkansen (Hikari) yang kami gunakan dari Tokyo ke Osaka.

Sesampainya di Hiroshima, kami berencana mengunjungi Hiroshima Peace Memorial Park. Menuju kesana kami menggunakan Tram bernomer 6 dan turun di stasiun M 10.

Hiroshima adalah kota pertama dalam sejarah yang menjadi target senjata nuklir. Angkatan udara Amerika menjatuhkan bom atom pada 6 Agustus 1945, jam 8.15 pagi, di saat perang dunia kedua hampir berakhir.

Bom atom itu langsung menewaskan sekitar 80.000 jiwa, dan pada akhir tahun karena luka dan radiasi yang menyebar, menewaskan secara total 90.000-140.000 jiwa. Sekitar 69 persen bangunan kota hancur seketika, dan 7 persen lainnya rusak parah.

Turun dari Tram, kami langsung dapat melihat A-Bomb Dome. Dengan berjalan kaki tak lama kami sampai di depan reruntuhan bangunan tersebut. Bangunan itu dulunya adalah Industrial Promotion Hall, lokasinya terdekat dengan tempat dijatuhkan bom atom. The A-Bomb Dome masuk dalam daftar UNESCO World Heritage.

Dari A-Bomb Dome, kami lanjutkan menuju ke Hiroshima Peace Memorial Museum, menyusuri jalanan yang indah di tepi sungai.

Hiroshima Peace Memorial Museum adalah museum utama dalam taman yang memberikan segala informasi bagi pengunjung. Dari arah kedatangan para pengunjung, dapat terlihat Peace Flame yang terdapat di tengah-tengah taman.

Lalu semakin mendekati museum, kita akan melewati The Memorial Cenotaph, monumen yang terbuat dari concrete, di dalamnya terdapat nama-nama semua orang yang tewas karena bom atom.

Kalau kita lihat tepat dari depan, The Memorial Cenotaph ini sejajar dengan Peace Flame dan A-Bomb Dome.

Memasuki museum, kita dapat melihat video, foto-foto, miniatur kota, benda-benda peninggalan dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan bom atom.

Berikut adalah gambaran kota Hiroshima sebelum dan sesudah di bom atom.

Foto-foto berikut menunjukkan benda-benda peninggalan dan korban akibat dari bom atom.

 

Keluar dari museum, perasaan bercampur aduk, dan kami rasa semua pengunjung juga mengalaminya.

Hari itu kami langsung kembali ke hotel di Osaka, menggunakan transportasi dan jalur kereta yang sama dengan kepergian kami pagi harinya.

Keesokan harinya hari kelima, kami bersiap-siap pergi ke kota Kyoto, akan tetapi dikarenakan hujan, keberangkatan agak tertunda. Sambil menunggu hujan, jendela di hotel pun menjadi korban iseng kami.

Seperti sebelumnya kita harus mencapai stasiun Shin-osaka terlebih dahulu. Dari sana menggunakan Shinkansen (Hikari) menuju stasiun Kyoto, waktu perjalanan hanya sekitar 30 menit.

Kyoto dahulunya merupakan ibu kota negara Jepang. Merupakan salah satu kota tertua di Asia. Kotanya indah sekali, banyak sekali tempat yang dapat dikunjungi. Akan tetapi karena terbatasnya waktu, kami hanya sempat mengunjungi beberapa tempat saja.

Tetap setia menggunakan transportasi kereta, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Fushimi Inari Shrine. Dari stasiun Kyoto menuju stasiun Fushimi-Inari hanya sekitar 10 menit. Merupakan salah satu shrine utama dari 30.000 shrines di Jepang. Terkenal dengan Sanbon Torii (Thousand Torii), pilar yang jumlahnya sangat banyak. Adegan film Memoirs of a Geisha sebagian diambil di tempat ini.

Pada saat kembali turun, kami melewati banyak toko-toko souvenir dan membeli sedikit makanan kecil.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Sanjusangendo Hall. Dari stasiun Fushimi-Inari harus pindah jalur di stasiun Tofukuji dan mengambil arah ke stasiun Shichijo. Keluar stasiun kita berjalan kaki ke arah timur kurang lebih 15 menit.

Untuk masuk ke dalam Sanjusangendo Hall, kita harus membayar sekitar 75 ribu rupiah. Di dalamnya terdapat 1001 patung kayu Kannon, the goddess of mercy. Sayang sekali tidak diperbolehkan sama sekali mengambil foto di dalam. Bahkan tertulis, mereka akan mengambil kamera yang kita gunakan.

Patung-patung di dalam bagus sekali, seandainya saja bisa kami share fotonya. Kesempatan kami hanya mengambil foto di taman luar area Sanjusangendo ini.

Tempat ketiga adalah Gion, di daerah ini dikenal dengan Geisha district. Dari stasiun Shichijo menuju ke stasiun Gion Shijo. Keluar stasiun kita berjalan kaki ke arah timur menuju Maruyama Park.

Kami sangat menikmati jalan-jalan di Gion, suasananya membuat kami betah berkeliling melihat-lihat. Kami seperti berada di dimensi waktu yang lain, di masa lalu. Saya berharap dapat meluangkan waktu lebih lama lagi.

Memasuki area Maruyama Park matahari telah terbenam, karena kami banyak menghabiskan waktu di jalanan Gion. Di waktu musim dingin, matahari terbenam sekitar jam 16.30.

Karena waktu telah malam, kami berjalan kembali ke arah stasiun Gion Shijo untuk kembali pulang ke Osaka dengan rute yang sama dengan waktu kami berangkat. Sepanjang jalan tetap kami temukan tempat-tempat yang menarik. Kami bertekad kalau suatu hari dapat kembali ke Jepang, ingin sekali rasanya menghabiskan waktu lebih lama di Kyoto.

Selingan sedikit, di stasiun Kyoto, kami temukan kembali bilik-bilik kecil seperti yang pernah kami lihat sebelumnya… ;)

Sesampainya di Osaka, kami mencoba mendatangi pertokoan Takashimaya, untuk melihat seperti apa aslinya di Jepang, maklum… tapi ternyata sudah tutup karena hari sudah larut malam.

Tiba di hotel, saya dan sahabat saya masih memiliki sedikit energi yang tersisa, dan memutuskan untuk keluar lagi mencari Glico Man yang terkenal menjadi simbol kota Osaka. Mengingat besok kami harus pindah kota lagi ke Takayama, akhirnya kami berdua bergerilya kembali. Di sepanjang jalan ada beberapa obyek foto menarik menurut kami untuk diabadikan.

Fiuuh, akhirnyaa… kami temukan juga Glico Man, lokasinya agak membelakangi gedung di tepi kanal Dotonbori, sehingga membutuhkan waktu untuk menemukannya. Malu bertanya sesat di jalan, tapi kadang bertanya malah jadi tersesat… :P

Glico neon sign ini sudah menjadi landmark kota Osaka sejak 1935. Neon sign raksasa ini sudah beberapa kali dimodifikasi untuk merayakan event-event besar seperti World Cup dan lainnya.

Tapi malam itu hanya ada kami berdua dan 2 orang lainnya yang perduli dengan neon sign raksasa itu dan mengabadikannya.

Perusahaan Glico ini adalah produsen dari Pocky dan Pretz, yang banyak juga dikonsumsi di Indonesia. Asal muasal gambar orang berlari ini adalah produksi permen pertama mereka, Glico-caramel. Gambar orang berlari ini dinamakan The Glico 300 Meter Running Man, karena satu permen Glico-caramel mengandung 15.4 kcal yang dapat memberikan energi seseorang untuk berlari sejauh tepat 300 meter.

Setelah bertemu dengan Glico Man, akhirnya kami dapat tidur nyenyak, mempersiapkan perjalanan esok hari ke Takayama dan Shirakawa-go, sebagai puncak acara perjalanan kami di Jepang.

Continue to Part 2: Takayama, Shirakawa-go, Tokyo

 

Go Back

Seruuuuu critanya.....seakan-akan ikutan pergi juga.....dwoh, jd pengen ikutan pergi ke sana.....bravo foto2nya baguzzzzz

Makasiihh Dini, iya bagus disana nggak nyesel deh kalo pergi... Udah baca part 2-nya Din? Mudah2an seneng juga... :D

Kereeeeen foto2nya.....nd storynya bs dijadikan referensi

Thank you Ike, jangan lupa baca juga part 2: Takayama, Shirakawa-go, Tokyo, http://www.didiek.com/entries/photography/from-jakarta-to-shirakawa-go-jalan-jalan-hemat-tapi-nyaman-ke-jepang-part-2
Ditunggu foto2 perjalanan Ike ke Korea... :)

seruuu bgt, mau nanya2 pas winter disana gimana ya? karena ada rencana mau ke osaka-kyoto mid jan 2014 :)

Infonya manfaat banget,foto2nya bagus....

Makasih @anonymous, semoga bermanfaat... :)

kak....numpang nanya..selama disana org2nya ngerti bahasa inggris ga?petunjuk jalannya termasuk train pakai bahasa inggris ga?
thank atas infonya

@yantifj
Halloo... memang di Jepang sedikit yang bisa bahasa inggris, jadi siap-siap ya...
Untuk stasiun kereta yang besar sudah ada informasi dalam bahasa inggris, sebagian lagi belum ada.
Tempat-tempat wisata sudah ada juga informasinya.
Semoga membantu, selamat jalan-jalan... :D



Comment